CERPEN REMAJA TERBARU 2012

Posted: February 5, 2012 in Uncategorized

CERPEN REMAJA TERBARU 2012

Bibi,,Terimakasih

Aku  berdiri tegak di taman rumahku yang berbatu-batu . Batu-batu  putih, batu  kapur,  tertata rapi dihalaman rumah bekas peninggalan ibuku yang sangat kucintai. Kupandang  langit cerah, matahari mulai naik di punggung bukit sebelah timur. Pemandangan yang hampir setiap hari masuk lensa mataku , namun setiap  hari pula hatiku bertambah sedih karena ditinggal ibuku.

Ourrr kettekungng, ourrrkettekung….

Suara burung perkutut melagu bening dari atas dahan pohon  mangga di sebelah rumahku. Suara tersebut mengusik hatiku. Teringat kembali saat aku  ingin menangkap burung itu ketika baru dua hari pindah kerumah ini. Pada saat itu ibuku mencegah niatku supaya tidak menangkap burung itu. Kata-kata ibu masih terngiang-ngiang dalam telingaku.

“ Didit sayang….kita tidak boleh menangkap burung tekukur itu, burung itu juga ciptaan Tuhan dit…” kata ibunya.

“Tapi bu….Didit suka burung itu…”

“ Justru karena suka itu dit, apa kamu tega melihat dia terusik? Siapa tahu  dia sedang mengerami anak-anaknya. Lagipula, seandainya dia dibiarkan hidup dan bersarang disana dia bisa menghibur kita. Suaranya sangat indah Dit ..” tambah ibunya.

Aaaah…desahku membuyarkan lamunanku.

Tak terasa air mata meleleh membasahi pipiku.

“Betul apa kata ibu dulu,suaramu memang bagus tekukur “ desahku dalam hati.

Kembali aku teringat  pada peristiwa  tanah longsor yang telah merenggut nyawa ibuku  .

Pada waktu itu aku baru pulang dari sekolah.

Tiba-tiba…..

“Tanah longsor! Tanah longsor!”

Pak Sarman, petugas keamanan desa berlari-lari di jalan desa sambil memukul kentongan.

Warga desa berhamburan keluar menemui pak Sarman.Begitu juga dengan aku yang pada waktu itu kebetulan melihat Pak Sarman melintas di depan rumahku

“Dimana ada tanah longsor Man?”Tanya pak lurah.

“Di lembah pak “jawab pak Sarman gugup.

“Apa?Dilembah?!” teriakku. Lalu ibuku bagaimana Pak?” tanyaku cemas.Aku tahu kalau ibu biasanya sedang berjualan di lembah. Ibuku mempunyai warung di lembah, dan setiap pagi sampai sore ibuku selalu berada di warung.

Pak Sarman dengan muka sedih memelukku.

“Warung ibumu tertimpa tanah longsor  nak,kita belum tahu nasib ibumu bagaimana.” Jawab pak Sarman sendu.

Badanku gemetaran, jantungku berdegup kencang. Keringat dingin keluar dari tubuhku.Pikiranku hanya tertuju pada ibu.

“Ayo  kita segera pergi ke lembah,mudah-mudahan kita bisa menolong  warga kita yang tertimpa tanah longsor tersebut!” ajak pak Lurah.

Warga bergegas pergi ke tempat itu, begitu juga dengan aku yang berlari-lari menuju tempat itu. Setelah sampai disana warga mendapati tanah longsor telah meratakan rumah-rumah penduduk yang ada dilembah,begitu juga dengan warung tempat ibuku berjualan. Hatiku bertambah cemas,aku sangat menghawatirkan keadaan ibu.

Pak Lurah kemudian memerintahkan untuk mengadakan penggalian. Penggalian  dilakukan dari empat penjuru arah.

“Awas, penggalian harus hati-hati. Jangan sampai cangkul mengenai tubuh korban.Anak-anak supaya menjauh.”kata Pak Lurah.

Tidak kurang dari 20 orang yang bekerja. Mereka menggali tanah yang longsor, untuk menyelamatkan korban yang tertimbun.Semua yang ada di tempat tersebut nampak sedih. Wajah mereka pada memucat. Tak ada seorang pun yang berani berbicara keras. Mereka hanya saling berbisik-bisik. Semua tercekam ketakutan.

Hatiku  pilu melihat semua ini. Aku mulai menangis. Dari sekian korban yang telah ditemukan, tak satupun yang ditemukan hidup. Aku pun telah pasrah.

Setelah 2 jam penggalian dilakukan, akhirnya ibuku ditemukan. Tapi, ia sudah meninggal. Jenazahnya kaku terpendam dalam tanah. Tapi masih dalam keadaan utuh.

Aku memekik dan menangis tersedu-sedu.

“Ibu…., Ibu….., jangan tinggalkan aku bu. Jangan tinggalkan aku,” teriakku di tengah tangisanku.

Orang-orang sangat kasihan dan terharu melihat diriku. Ibu-ibu mendekap dan merangkulku. Mereka tak tega. Bahkan para ibu ikut pula menangis. Suasana benar-benar menyedihkan. Seakan-akan keadaan menjadi muram mendadak.

“Aahhhhh….” desahku… Hatiku pilu kalau teringat pada hal ini. Ayah dulu telah meninggal waktu usiaku masih kecil. Dan bahkan ibu juga meninggalkanku. Air mataku keluar meleleh. Aku pasrah dengan nasibku kini.

Saat aku masih melamun, tiba-tiba adikku menghampiriku.

“Kakak, kenapa kakak menangis?” tanya  adikku.

Sapaan adikku telah membuyarkan lamunanku, adik perempuan satu-satunya yang ku miliki tampak melihatku dengan pandangan rasa ingin tahu.

“Kakak tidak kenapa-kenapa sayang, “kataku sambil merangkul dia. Dibelainya rambutnya, rambut yang begitu lembut menurut perasaanku.

“ Aah..kakak jangan bohong, tadi kakak menangis kan?”kata adikku.

Aku membayangkan bagaimana nasib adikku sekarang, dia masih sangat memerlukan kasiih sayang orang tua.

“Kak?” ulang adiknya lagi.

“Eeh, kamu sudah makan dik? Bibi kemana?” kataku mengalihkan perhatiannya.

“ Aku belum makan kak, bibi sedang pergi  berjualan. Tadi bibi nitip pesan sama kakak, katanya bibi sudah masak di dapur. Kalau kakak lapar,bisa ambil didapur kak.” Jawab adikku.

Ooh, baru aku sadar kalau perutku keroncongan dari tadi.

“  Kita makan sama-sama ya dik, kamu belum makan kan juga? Ayo..!” ajakku pada adikku.

Kami berjalan bergandengan ke dapur. Setelah selesai makan, aku mengajak adikku untuk tidur.Aku tertidur cukup lama dan terbangun karena mendengar suara ribut-ribut di depan rumah.Saat ku pergi ke depan rumah, ku dapati teman-temanku datang bersama ibu guru.  Andi, anto, dan  herni menghampiriku.

“Dit.. kamu sudah baikan? Kapan kamu sekolah lagi Dit ? Kami semua merasa kehilangan kamu.” kata Herni.

“Iya Dit, engga ada yang mentraktirku lagi di kantin” gurau Anto.

“ Huuss…kamu, teman lagi susah kok di suruh mentraktir. Bagaimana keadaanmu Dit?’” sela Andi.

Aku tersenyum melihat teman-temanku.

“ Maaf teman-teman,aku sudah membuat kalian cemas. Tapi,kenapa kalian tidak bilang mau kerumahku sich? Ibu guru juga ikut. Silakan masuk bu,”kataku mempersilakan ibu guru

“Lho, kok cuma ibu guru sich? Kita tidak disuru  masuk ini?””sahut Anto.

“Iya, maksudku kalian juga,”kataku mempersilakan teman-temanku

Segera aku pergi ke dapur untuk menyedu teh. Lalu menghidangkannya pada mereka.

“ Ibu, Anto, Andi, Herni, silakan di minum. Maafkan keadaan rumah saya yang kotor bu, teman-teman. Habis, Ibu dan teman-teman tidak bilang-bilang sich mau kesini.,”kataku.

“Ibu sengaja melarang mereka untuk memberitahumu Dit, jangan salahkan mereka.”kata ibu guru.

“Iya Dit, kami memang sengaja datang kesini tanpa harus memberitahu kamu terlebih dahulu. Kami tidak ingin merepotkanmu Dit,” jawab Andi.

“Betul Dit,” tambah Herni.

“ Maafkan kami kalau kedatangan kami mengganggu kamu Dit,” kata Ibu guru.

“ Aah tidak bu, saya senang ibu guru dan teman-teman datang kesini,”kataku.

“ Bagaimana keadaanmu  sekarang?” tanya ibu guru.

“Baik bu,” jawabku.

“Kapan kamu mulai sekolah Dit? Sudah 2 minggu kamu tidak bersekolah,” kata ibu guru lembut.

“Entahlah bu,” jawabku sedih.

“ Mungkin saya tidak akan sekolah lagi bu,”tambahku.

Jawabanku membuat ibu guru dan teman-teman terkejut.

“ Kalau kamu tidak sekolah, kamu mau ngapain Dit? Umur kamu masih kecil,” tegas ibu guru.

“Benar Dit, apa yang mau kamu lakukan kalau kamu tidak sekolah?” tanya Anto.

“ Entahlah Anto, mungkin aku akan bekerja,” jawabku.

“ Kamu mau bekerja apa Dit?” tanya bu guru.

“Apa saja bu, yang penting saya bisa membantu bibi saya di rumah, bisa menjaga adik saya dirumah,” jawabku.

Ibu guru memandang wajahku dalam-dalam. Tapi, aku hanya menundukkan kepalaku.

“ Dit, ibu mmengerti keadaan kamu sekarang. Tapi, jangan karena ini membuat kamu jadi putus asa. Ini bukan akhir dari segalanya Dit,” kata Bu guru.

Didit menundukkan kepalanya lebih mendalam. Dalam hati dia berpikir perkataan ibu gurunya ada benar juga.

“ Dit, kami semua sangat mengharapkan agar kamu bisa bersekolah dan tidak menyerah sampai disini Dit,” tambah Bu guru.

“ Didit tidak menyerah bu, Didit cuma……”

“Dit, bagaimana cara kamu membiayai hidup adikmu? Kamu sendiri baru kelas 3 SMP, ijasah pun belum kamu punya, kamu mau bekerja dimana?” tanya bu guru lagi.

Hatiku menjadi bertambah bimbang.

“ Kamu termasuk siswa yang berbakat di sekolah Dit, apa kamu ingin membuang bakatmu itu?” tanya bu guru lagi.

“ Benar Dit, aku tidak mau juara kelas jatuh pada anak lain Dit!” tegas Herni.

Aku  memandang Herni dalam-dalam. Aku menghela napas panjang sebelum mulai bicara.

“ Bu, herni, saya juga ingin sekolah. Tapi saya dapat biaya darimana untuk sekolah?” tanya Didit sedih.

“ Dit, segala masalah pasti ada jalannya. Tuhan tidak akan memberikan cobaan yang tidak dapat diselesaikan oleh hambanya,” kata ibu guru.

Aku  termenung dengan ucapan guruku. Kemudiand iam-diam aku melirik foto orang tuaku. Tampak foto ibuku tersenyum yang seolah-olah mendorongku untuk tidak berputus asa.Disamping foto ibu, berdiri foto ayah yang masih sangat muda dengan pakaian dinasnya. Foto ayah tampak sangat gagah, dengan lencana di bahu kirinya.

Ahh..seandainya ayah masih ada disini, tentu dia bisa membantu menyelesaikan masalah ini, pikirku. Lama aku memandangi foto kedua orang tuaku.

Lalu terdengar suara ibu guru memecah keheningan.

“ Dit, mereka pasti akan sangat bangga seandainya kamu tetap bersekolah,” kata ibu guru yang seolah-olah mengerti apa yang sedang aku pikirkan.

“ Bu, Didit ingin sekali bisa sekolah. Didit ingin kalau seandainya Didit bisa belajar bersama teman-teman disekolah.Tapi, keadaan Didit tidak mengijinkan bu. Didit tidak punya….”

“ Tidak punya biaya maksud kamu Dit ? Jika kamu tidak punya biaya kamu bisa mengajukan permohonan di  sekolah. Bukankah di sekolah ada bantuan untuk siswa tidak   mam pu Dit,”jelas bu guru.

“ Benar Dit, disamping itu kamu juga bisa ikut program beasiswa siswa berprestasi, ya dari program itu kamu bisa sedikit mengurangi beban kamu,” kata Andi.

Aku  memandang ibu guru, Anto, Andi, dan Herni. Lalu…

“ Terimakasih ibu guru, terimakasih teman-teman. Terimakasih atas saran yang telah kalian berikan pada saya. Kedatangan kalian sangat menghibur, tetapi saya sudah memutuskan bahwa saya tidak akan sekolah lagi. Saya akan bekerja membantu bibi saya berjualan di lembah. Memang saya masih kecil, tapi saya yakin saya bisa mengurus diri saya dan adik saya,” kataku.

Ibu  guru membalas pandangan Didit. Tampak kegundahan yang sangat besar dalam wajah Didit.

“Ibu dan teman-teman kamu tidak bisa memaksa supaya kamu mau pergi sekolah lagi,” kata bu guru kecewa.

“ Maafin saya bu, teman-teman. Saya telah membuat kalian kecewa,” kataku sendu.

“ Tidak apa-apa Didit, ibu mengerti keadaanmu,” kata ibu guru tersenyum.

Ibu guru membelai rambut Didit dengan perasaan sayang. Kamu masih terlalu kecil untuk merasakan kepahitan hidup Dit, desah bu guru dalam hati.

“ Oh ya, hanya itu maksud kedatangan kami kesini Dit. Kalau begitu kami pamit pulang dulu,” kata ibu guru.

“ Iya bu,” jawabku sambil memaksa untuk tersenyum.

Mereka beranjak bangun, namun dihentikan oleh suara bibiku.

“ Kamu harus tetap bersekolah,Dit!!” kata bibiku tegas.

Bibi datang menghampiriku dan Ibu guru. Ternyata dari tadi bibiku telah pulang dan mendengar percakapan kami.

“ Tetapi, dimana saya mendapat biaya untuk sekolah bi?” tanyaku.

“ Masalah biaya tidak usah kamu pikirkan Dit. Bibi yang akan menanggung itu semua. Kamu dan adikmu sudah bibi anggap anak bibi. Bibi akan bekerja untuk membiayai kalian,” kata bibi Didit.

“Tidak bibi, biarkan aku bekerja membantu Bibi di lembah berjualan,’ kataku.

“ Sudahlah Dit, bibi tidak mau mendengar penolakanmu lagi. Bibi sudah berjanji pada orang tuamu dulu bahwa bibi akan menjaga kamu Dit,” kata bibi Didit.

“ Bibi…”

“ Bibi marah kalau kamu tidak menurut pada bibi Dit,” tambahnya sambil menaikkan alis seolah-olah dia marah.

Hatiku menjadi bimbang. Perasaan ingin membantu bibi, malah ditentang oleh bibiku sendiri.

“ Sudahlah Dit, turuti saja apa mau bibi kamu.  Anggap saja ini adalah jalan yang Tuhan berikan padamu untuk menyelesaikan masalahmu Dit,” kata ibu guru.

Hatiku menjadi semakin bimbang. Hatiku  trenyuh mendengar ucapan dari ibu  gurunya, juga perasaan yang tidak ingin membuat bibinya sedih. Aku sungguh terharu akan ketulusan hati bibiku, dan juga ibu guru serta teman-teman yang sangat perhatian padaku.

Lama aku terdiam, dan akhirnya aku pun berkata.

“Baiklah jika itu sudah menjadi keputusan dari bibi, saya akan menuruti keinginan bibi. Saya akan bersekolah lagi,” kataku sambil berurai air mata.

Aku memeluk bibiku dengan erat, begitu juga dengan bibi.

“ Yeeaah.. ini baru Didit, akan sangat kehilangan kamu jika kamu tidak bersekolah lagi Dit,” celetuk  Anto.

“ Huuusss…kamu, kerjanya nyeletuk saja,” kata Andi.

“ ,”Biarin…”sambar Anto.

“Ahh..Sudah, jangan dihirauin si Anto” kata Herni.

“Asyik…..Aku akhirnya ditraktir lagi..” celoteh  Anto.

“Iyah…iyah…kapan-kapan aku teraktir kamu To,”kataku tersenyum bahagia.

Aku dan adikku kemudian tinggal bersama bibi. Aku senang, Tuhan ternyata masih memberikan kebahagian untukku.Terimakasih Bibi..

Kebahagiaan didunia ini akan sangat terasa dengan komentar yang anda berikan. Satu komentar akan sangat berarti bagi penulis.😉

Dipostkan oleh : Candra Utama

CERPEN REMAJA TERBARU 2012

CERPEN REMAJA TERBARU 2012

CERPEN REMAJA TERBARU 2012

CERPEN REMAJA TERBARU 2012

CERPEN REMAJA TERBARU 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s